Tampilkan postingan dengan label Pendakian. Tampilkan semua postingan
Apa Yang Kau Cari Wahai Para Pendaki ?
Sabtu, 08 Februari 2014
Posted by alia machmudia
Tag :
Pendakian,
Wisata dan Pertualangan
Lewat obrolan virtual itu kau bertanya tentang
petualangan-petualanganku. Tentang seberapa banyak puncak tinggi yang
pernah kugagahi. Juga tentang seberapa luas rimba raya yang telah
kucumbui. Selebihnya kau hanya bercerita tentang petualanganmu saja,
tanpa titik koma. Padahal jika bisa kau tatap mataku saat itu, tentu
kau akan tahu jika sebenarnya aku enggan mendengar ceritamu.
Beberapa tahun yang lalu aku juga sama sepertimu kawan. Ketika
secarik kain berwarna ungu itu baru saja melingkar di leherku. Saat
benak ini hanya dipenuhi oleh satu obsesi. Mendaki, mendaki dan mendaki,
itu saja. Namun, di tengah perjalanan akhirnya aku baru sadar akan
sesuatu. Tak harus menjadi seorang pencinta alam, jika kau hanya ingin
berpetualang! Sebab, mendaki sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja.
Bukan hanya aku atau kamu, tapi juga mereka.
Kurasa mendaki itu cuma butuh tiga hal saja kawan. Duit yang cukup di tangan. Sedikit ketrampilan serta kekuatan. Dan, yang terpenting adalah belas kasihan. Yah, belas kasihan, itu yang paling dibutuhkan oleh seorang petualang. Bukankah karena sebuah belas kasihan Tuhan, puncak tinggi itu bisa kita gapai dengan tangan? Bukankah karena setitik sifat Rahman-NYA pula kita bisa selamat pulang, dan kembali berkumpul dengan keluarga?.
Kurasa mendaki itu cuma butuh tiga hal saja kawan. Duit yang cukup di tangan. Sedikit ketrampilan serta kekuatan. Dan, yang terpenting adalah belas kasihan. Yah, belas kasihan, itu yang paling dibutuhkan oleh seorang petualang. Bukankah karena sebuah belas kasihan Tuhan, puncak tinggi itu bisa kita gapai dengan tangan? Bukankah karena setitik sifat Rahman-NYA pula kita bisa selamat pulang, dan kembali berkumpul dengan keluarga?.
Kawan, mendaki itu bukan sebatas menumpuk dokumentasi di situs
jejaring pribadi. Bukan pula ajang pembuktian sebagai seorang pencinta
alam yang jantan. Jika itu saja yang ada dalam pikiranmu, kurasa kau
masih belum memahami esensi dari mendaki. Dari setiap cucuran keringat,
disitu ada mutiara hikmat. Dalam setiap perjalanan, disitu pula ada
makna pelajaran tentang kehidupan.
Saat kau dirundung gila tenar dan sanjung. Cobalah untuk berdiri di
puncak tinggi itu. Lihat kawan, adakah sorak sorai tepuk tangan penonton
yang mengitarimu. Adakah spanduk “selamat datang” yang menyambutmu? Mungkinkah pula ada sebuah tropi yang bisa kau angkat tinggi-tinggi sebagai tanda kemenanganmu?
Saat kau di puncak tinggi itu, mungkin saja kau merasa lebih tinggi
dari segalanya. Coba tengok di sekelilingmu. Kanan, kiri dan juga yang
ada di atasmu. Lihat, bandingkan dirimu dengan bentang alam yang
menghampar di sana. Bayangkan dirimu ada diantaranya, itulah sebenarnya
dirimu. Kau tak lebih hanyalah sebuah noktah yang mungkin tak nampak
jika ditatap dari kejauhan. Masihkah kau merasa lebih tinggi? Jadi,
kenapa kita merasa seakan mampu memegang matahari? Bukankah di atas
langit masih ada langit kawan? Tak mungkin kita mampu menggapai
matahari itu. Bahkan untuk menatapnya saja, kau tak akan kuasa oleh
silaunya.
Berada di puncak yang paling tinggi, bukan berarti kita telah menjadi
pemenang sejati. Jangan lupa kawan, semakin tinggi tempat kita
berdiri, semakin kencang pula angin yang menerpa di kanan kiri. Posisi
tinggi dalam kehidupan bukanlah jaminan tidur kita akan menjadi aman
sekaligus nyaman. Sebab, bisa jadi ada angin dari luar sana yang akan
menerpamu secara bertubi-tubi. Sekencang-kencangnya, tanpa kau sadari
dari arah mana datangnya. Bahkan acapkali angin itu mencoba
menjatuhkanmu hingga posisi serendah-rendahnya. Tapi, santai saja kawan.
Bukan itu yang perlu kamu takuti. Jadikan saja ikhlas dan sabar sebagai
tameng untuk menahan terpaan angin di luaran sana.
Kuhanya takut hembusan angin kecil dalam diri yang justru akan
menggoyahkan kaki penopang kita berdiri. Tiupan angin dalam hati bernama
sombong, riya’ dan dengki, itulah yang harus kita waspadai. Jangan
biarkan tiupan itu semakin berhembus, menerobos dinding hati ini. Sebab,
jika itu menjadi kebiasaan, bisa jadi akan menjadi sindrom saat usia
senja nanti. Saat rambutmu telah dipenuhi uban, kau masih saja sibuk
berebut pujian. Saat keriput mulai membalut kulitmu, kau pun masih saja
bernafsu memburu jempol-jempol itu.
Kawan, bukan berarti aku antipati pada kata-kata mendaki. sebab,
hingga hari ini petualangan itu masih kusenangi. Mungkin saja aku sedang
jemu untuk melakukannya. Seperti halnya kejemuanku pada dunia abstrak
yang sedang kulakoni lewat layar mini ini. Mungkin ada baiknya kita
berbincang tentang hal yang lain saja. Sesuatu yang lebih pencinta alam
tentunya. Tentang periculum in mora. Atau tentang alam
raya yang butuh sentuhan sayang dari tangan kita. Kenapa kita enggan
perbincangkan jernih sungai yang sekarang berubah bak comberan? Kenapa
kita tak berdiskusi lagi tentang burung-burung yang enggan bernyanyi
kala pagi hari?
Mungkin lain waktu kubiarkan ransel gunung itu kembali memijat lembut
punggungku. Mungkin lain hari aku akan kembali mendaki sepertimu. Tapi,
tentu saja bukan bermaksud untuk menjadi yang lebih tinggi, atau
mungkin meninggi. Sebab, mendaki itu kulakoni ‘tuk sekedar mengasorkan diri.
Salam Lestari !Lovalia
Photo's By : TIM 5A - GEMPA
| Bukan Sarangan ... Bukan Puncak ... Bukan Luar Negeri Ini alam Todanan - Blora Mustika |
| Todanan hijau dan asri |
Semangat Ahad ! ! !
Wisata ke Manggir ini saya peroleh ketika mengisi TM 1 IPM Todanan kemarin.
Pagi ini banyak sekali agenda yang harus dikerjakan . Setor tugas kuliah, Muskab KNPI, TM 1 IPM Todanan. Usai sidang KNPI hari ini kami ( Saya dan Selamet ) langsung cabut ke Todanan. Sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Umum PD IPM Kabupaten Blora kami akan mengisi beberapa materi di Pelatihan Kader Taruna Melati 1 PC IPM Todanan. Tempatnya di daerah Pelem Sengir ... saya tidak tau itu daerah tempatnya di mana (-__-).
Lelah pasti ... karena rumahku - Sebuah desa di kecamatan Kedungtuban- jauh sekali dari Todanan. Perjalanan saya tempuh dengan naik sepeda motor.Dari rumahku sampai Cepu kurang lebih 40 menit. Cepu sampai Blora kurang lebih 1 jam. Blora - Todanan-Pelem Sengir kurang lebih 3 jam. ( -_- ) . Mungkin karena perjalanan kami disertai gerimis makanya jadi lebih lama.
Meskipun jauhnya teramat sangat tetapi saya selalu bersemangat setiap mendapat kesempatan berkunjung ke Todanan. Karena alamnya masih sangat asri , struktur alamnya, logat bahasa penduduknya, keramahannya sangat mengingatkan saya pada kampung halaman Ummi - Wonogiri. Kekecewaan gagal pulang kampung liburan kali ini pun sedikit terobati.
Sedari berangkat kemarin sore, saya sudah memperhatikan sebuah bukit ( atau gunung ? - mbuh )... yang oleh penduduk setempat disebut Gunung Mangir. Jika dibandingkan dengan Bukit Kedinding di desa Ngraho Kedungtuban sangat jauh sekali bentuknya. Bukit kedinding berbentuk sebagaimana gunung pada umumnya, tersusun dari 3 bukit dengan struktur segitiga yang jelas puncaknya. Berbeda sekali dengan Gunung Manggir ini, lebih menyerupai sebuah tembok lurus dengan sebuah bagian agak tinggi yang tidak berada di tengah melainkan agak ke ujung bagian bukit.
| Pemandangan alam Todanan dari atas Gunung Manggir |
Karena Selamet sudah pulang terlebih dahulu maka ketika saya pulang siang harinya saya menyempatkan mampir di bukit ini. Hujan rintik-rintik menemani petualangan saya.
Obyek Wisata Gunung Manggir Blora merupakan obyek wisata alam berupa pegunungan dan terdapat Goa yang lokasinya terletak di perbukitan Manggir, desa Ngumbul Kecamatan Todanan, + 38,5 km daerah barat dari kota Blora atau + 3,5 km ke arah barat dari obyek wisata Goa Terawang.
Obyek wisata gunung manggir berada di perbukitan batuan kapur dengan ketinggian +/- 250 m dari permukaan laut.obyek Wisata Gunung Manggir Blora luas areal +/- 4 Ha. Obyek wisata gunung Manggir juga terdapat Goa yang letaknya berada di dekat puncak gunung Manggir dengan mempunyai tiga trap atau tingkatan yaitu : Trap atas/ trap pertama , trap tengan dengan kedalaman +/- 15 m, dan trap bawah mempunyai kedalaman +/- 7 m. Didalam goa ini terdapat stalaktit dan stalakmit yang unik dan menarik.
| Tanahnya tanah Kapur |
Di Obyek wisata gunung Manggir disamping terdapat goa Manggir juga terdapat goa Mangklih yang letaknya terdapat dibagian utara gunung tersebut yang didalamnya terdapat mata air (sendang). untuk mencapai obyek wisata Gunung Manggir dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau empat. dari jalan aspal kearah goa + 1 km melewati jalan kampung dan jalan setapak. Puncak gunung Maggir memiliki tanah terbuka +/- 5 m2, apabila kita melihat dari sini kesegala arah akan tampak pemandangan yang mengesankan, begitu indah dan menawan Obyek Wisata Gunung Manggir Blora.
Lovalia
Tambahan referensi beberapa sumber
6 November 2013
![]() |
| My TIM 5A minus Arik ( yang motret soale) Berdiri kiri-kanan : Aris, Thonie, Adam, Alia, Imut Jongkok kiri-kanan : Muji, Aries |
Seperti biasa basecamp pemberangkatan kami adalah Simsi's House alias rumahnya mas Imut. Bedanya jika biasanya kami berangkat pagi-pagi, kali ini kami berangkat siang hari, kurang lebih pukul 1 siang. Cukup nekat sebenarnya karena sejak awal berangkat mendung sudah menggelayut di langit. Tapi bukankah hujan adalah sahabat bagi para pecinta alam ? :)
Ceiiliieehhh gayanyaa ... :D
Seperti tahun lalu kami akan merayakan tahun baru Islam di puncak Gunung Lawu. Orang Jawa bilang malam satu Suro. Cukup mendatangkan tantangan tersendiri selain karena momen yang termasuk disakralkan, pendakian kali itu juga kami lakukan di salah satu gunung yang termasuk deretan teratas gunung yang masih kental aura mistisnya. Perpaduan yang sungguh pas bukan… ^_^ Di waktu tersebut Gunung Lawu sedang ramai-ramainya dikunjungi.
Memasuki kota Magetan hujan benar-benar deras. Akhirnya kami memutuskan untuk berteduh, tapi begitu menyadari tempat berteduh itu adalah pemakaman, kami memutuskan berteduh cukup lama di sebuah rumah makan. Bukan karena kami takut hujan, tapi karena kami kelaparan. :D Selain itu kami harus menjemput dua pasukan tambahan, kawan-kawan Mas Adam (kawan kami juga tentunya)
Tahun ini kami pun kami memilih Cemoro Sewu sebagai jalur pendakian yang kami pakai. Selain karena lebih singkat, di jalur itu biasanya lebih ramai pendaki maupun penduduk sekitar yang melakukan kegiatan adat. Benar saja, begitu kami sampai di basecamp Cemoro Sewu, lautan manusia memenuhi jalanan dan warung-warung yang ada disana. Kami pun sempat kebingungan mencari lokasi parkir karena memang semuanya penuh. Namun akhirnya kami menemukan area parkir yang masih bisa menampung motor kami meski harus berjalan beberapa meter dari gerbang pendakian. Dari yang kami lihat saat melewati jalanan menuju basecamp.
![]() |
| Tenda kami di Basecamp |
![]() |
| Masak-masak di POS II |
Singkat cerita esok harinya sesudah makan pagi kami pun memulai perjalanan yang cukup menyenangkan hingga kami sampai di POS I. Saling menyapa pendaki lainnya yang tidak dikenal, berbagi cerita, berbagi tempat atau bahkan berbagi bekal adalah hal yang sangat menyenangkan yang hanya bisa ditemui saat kau mendaki kawan :). Keakraban dan persaudaraan itulah pendaki.
Usai POS I kami menuju POS II. Kami melanjutkan berjalan menapaki jalur pendakian yang didominasi batu terjal yang menanjak tersebut perlahan-lahan karena di sisi kanan dan kiri mulai banyak pendaki-pendaki yang tiduran di pinggir jalur pendakian. Kalau gak melihat dengan seksama bisa-bisa pas kita jalan mereka bisa terinjak tuh karena saking berserakannya pendaki yang tiduran di jalur pendakian.
Tak terasa satu per satu pos yang ada berhasil kami lewati dengan lancar. Hingga akhirnya sampai di Pos 4 dengan tanah berkapur putih nya. Rasanya tubuh ini sebenarnya ingin segera direhatkan karena letih dan kantuk yang perlahan makin bertambah intensitasnya, namun kami memutuskan lanjut saja berjalan hingga Pos 5 karena jaraknya nggak terlalu jauh dari pos sebelumnya.
Langit di sisi timur sudah mulai gelap, kabut mulai turun dan firasatku mengatakan malam ini akan terjadi badai :(
Kami melihat salah satu tenda kami sudah terpancang di POS V. tentulah teman-teman yang sudah terlebih dahulu sampai sebelum kami yang memasangnya. Belum sampai kami memasang tenda, tiba-tiba hujan dan angin kencang turun bersamaan, benar firasatku... telur badai mulai menetas. Ya Allah ... lindungi kami :)
Sepertinya kami mengalami kesulitan untuk mendapatkan tempat mendirikan camp. Gimana nggak kesulitan coba, sudah ada puluhan tenda yang didirikan disana ditambah ada sebuah warung dadakan lagi. Warungnya luar biasa lho… Seperti warung-warung yang ada di tiap pos Gunung Lawu sebelumnya yang sekaligus menyediakan pondokan bagi pendaki untuk beristirahat atau pun tiduran, di Pos 5 pun ada. Mungkin karena bertepatan dengan malem satu Suro kali ya. Biasanya sih cuman ada di Pos 1, namun kali ini kalau dihitung-hitung yang tidak ada warungnya hanya di Pos 4 saja, karena memang tempatnya nggak begitu luas.
![]() |
| Menghangatkan diri dengan api Bahkan apinya pun membeku :D |
Rencananya sih mau tidur bakal sejam dua jam dulu sebelum memasak makanan. Begitu tenda berdiri walau terpaan angin ribut terus menghantam tenda, kami pun mengisi perut dengan makan di warung sederhana itung-itung sebagai pengganjal perut sebelum tidur pagi, #lhoh...
Ahh, akhirnya bisa tidur. Walaupun saya dan mas Adam harus berperang histeris gara-gara serangan Muji #sensor…. haha
Angin yang ribut menghantam tenda membuat saya tidur tak terlalu pulas. Apalagi tengah malam banyak pendaki menggerutu karena menganggap tenda kami berdiri di tengah jalan :D padahal seingatku jalan menuju puncak ada di sisi berlawanan.
![]() |
| DI PUNCAK- Menikmati minuman karya mas Imut hahaha :D rasanya aneh |
![]() |
| Di Puncak Hargo Dumillah |
Setelah membuat minuman hangat dan mengabadikan beberapa pose kenangan di puncak akhirnya kami memutuskan untuk turun.
![]() |
| Sisi Lain Hargo Dumillah |
![]() |
| Alia with Mas Adam |
![]() |
| Bojonegoro he he he :p |
Kami membereskan tenda dan kali ini kami sungguh beruntung, di tengah perut yang keroncongan dan dahaga yang menyiksa ternyata warung di POS V kehabisan air sehingga kami tidak bisa membeli makanan dan minuman.
![]() |
| Kakak-kakakku , Sahabat-sahabat terbaikkuuuu |
Sesampainya di bawah seperti biasa saya pun "mencuri" beberapa wortel di kebun petani yang habis dipanen. Membuat orang-orang yang melihat saya menggenggam bunga-bunga wortel mengira itu adalah sedelweiss :D
tapi seperti biasanya pula wortel itu tertinggal dan tidak bisa saya bawa pulang ( atau memang tak ingin ikut pulang ).
Pukul 12.30 kami memutuskan kembali pulang ditemani hujan gerimis. Yah, itulah pendakian kawan, entah orang-orang kau kenal atau tidak, pasti akan saling menyapa dan membantu :)
Alhamdulillah tak sekalipun aku tinggalkan kewajiban kepada Tuhan untuk bersujud :)
Semoga tahun depan dan tahun-tahun berikutnya tetap bisa ke sini lagi :)
Lovalia
Foto, Doc.TIM 5A
created by Ipmawati Alia. Diberdayakan oleh Blogger.













